“Sudah Isi Belum?"

Pertanyaan ini sering sekali mencuat dari seorang yang hobi bertanya “Jadi kapan kawinnya?” Ketika sudah tidak bisa lagi bertanya hal itu, versi kedua muncul menjadi “Sudah isi belum?” “Nikahnya barengan si Encum kan? Encum udah lho, kamu kapan?” Entah kehabisan pertanyaan atau sekadar ingin berbasa-basi tapi asli basi.  

Photo by Ihsan Aditya from Pexels

  • Teruntuk Si Tukang Tanya
Kalau belum isi, ruginya apa sih buat kamu? Untungnya juga apa? Mau ngebayarin kontrol bulanan juga enggak sepertinya. Tetapi Si Hobi Ditanyai bisa jadi sedih, karena Si Tukang Tanya kebanyakan tidak tahu seperti apa cerita di balik pertanyaan itu. Seberapa keras ia berjuang untuk apa yang kamu tanyakan. *hiks*

Bertanya itu mudah, tapi kreatif sedikit lah. Mungkin coba diganti dengan pertanyaan lain yang lebih menyenangkan. “Sudah nyobain kuliner ke mana sama suami?” “Seru nggak?” “Makin seru dong sekarang ke mana-mana ada yang menjaga?” Make the world beautiful and you will be more thankful right? Menyemangati pun tidak ada salahnya, daripada judging dan penuh tanya. 

Ketika bisa berada di posisi Si Tukang Tanya, yuk sebisa mungkin mengerem diri untuk bertanya itu. Takut balik merasakan. Karma. Pun dulu ada beberapa keluarga yang mengalaminya, jadi tahu rasanya ditanya itu melulu (walaupun tidak secara langsung). Posisikan diri kita menjadi Si Hobi Ditanyai dan memang belum isi, kira-kira bakal sakit hati nggak sih?

Karena peduli tidak harus menyakiti.

  • Teruntuk Si Hobi Ditanyai
Karena menikah di awal tahun dan bertemu dengan lebaran 2 keluarga pertama kalinya saat mudik 2017, Ibuy Kamapun mengalaminya. Apalagi ada beberapa saudara dan teman yang nikahnya berdekatan, malah hanya beda minggu juga sudah hamil. Sempat galau nggak sih, kok kayanya santai-santai aja? Hmmm, hati tak semanis wajah Bulgoso!

Beberapa jawaban Ibuy Kama tiap kali pertanyaan itu dilontarkan adalah: “Doain terus ya, kami juga usaha terus kok.” “In syaa Allah sebentar lagi.” “Iyah, pengen isi kok. Kasih tips dong, dulu makan apa ya supaya isi?” Atau dengan meraih tangan penanya untuk pegang perut dan bilang, “Yuk, ikut doain supaya isi.”

Asli pernah super galau! Berusaha sambil minum asam folat, vitamin D dan suplemen ini itu. Apalagi Mama Mertua pernah sesekali bertanya dan diam-diam masakin tauge melulu, haha. Pelan tapi pasti! Makasi, Mama! 

Lihat Instagram yang isinya bayi aja bisa meneteskan air mata, ngintip maternity photo orang bisa bad mood, dengar ada yang hamil di kantor langsung pengen sujud sambil sesenggukan. Hanya suami dan Tuhan yang tahu, karena di depan orang lain hanya bisa (sok) senyum.

Karena berkali-kali sedih di saat-saat seperti itu, suami si penguat hati yang juga bertindak sebagai sahabat dan psikolog gratisan menasihati. Teringat sekali kata-katanya karena mantul di hati.

“Anak itu kan titipan Allah. Kalau orang mau nitip, pasti harus percaya dulu kan. Percaya kalau kita pantas dititipin, memastikan segala sesuatu dari diri kita sudah baik supaya Allah tahu kita siap. Paling dasar kan sholat. Sholatnya udah baik belum? Masih bolong-bolong nggak, denger adzan langsung sholat atau telat-telat di akhir? Yang harus kita lakukan itu memantaskan diri supaya Allah juga mau menitipkan ciptaan-Nya pada kita.”

Makjleb sih, tapi jadi lebih kuat menghadapi cobaan dan pertanyaan, juga bersemangat untuk memantaskan diri. Semuanya serba sabar dan dibawa happy. Iya, kalau stres malah nggak enjoy dan nggak jadi! Haha. 

Seiring kami membenahi ini itu, setelah lebaran yang penuh pertanyaan “Sudah isi belum?” dan saat sudah pasrah tanpa terlalu banyak memikirkan, di 15 Juli 2018 Ayah dan Ibuy Kama dihadiahi test pack 2 garis! Langsung berpelukan di tempat tidur sambil berteriak, “Alhamdulillah!!” Tuhan (benar-benar) memberi seiring kami membenahi. Tidak terlalu cepat dan tidak terlambat. Dia tepat waktu! 

Semoga sharing ini jadi salah satu referensi, saat ditanyai itu lagi. Dan jika ada di posisi sering menanyakan pertanyaan ”Sudah isi belum?”, yuk dipikir-pikir lagi.

Komentar

Postingan Populer