Kota Liburan, Kota Rantauan
"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu.
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna.
Terhanyut aku akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu,
Nikmati bersama suasana Jogja..."
(Kla Project - Yogyakarta)
(Kla Project - Yogyakarta)
Sudah seminggu lebih akhirnya saya pindah ke kota ini, Yogyakarta. Tidak ada rencana. Yogyakarta menjadi sudden place untuk saya setelah kurang lebih enam bulan lamanya hanya di rumah makan, tidur, main laptop sambil ngecek Job Street dan website lowongan kerja, pup, dan mandi (kalau rajin). Yup, saya (akhirnya) diterima kerja dan harus menghabiskan enam bulan pendidikan di kota liburan favorit saya ini.
Kota yang kecil dan ancient, terutama dengan banyaknya tempat wisata di daerah ini. Sayangnya beberapa orang lokal memanfaatkan wisatawan domestik dan pendatang dengan mematok tarif yang surprising saat naik becak ataupun makan di daerah tertentu, padahal sudah berbasa krama. Jadi mending ke mana-mana naik Trans Jogja dan jangan makan di tempat-tempat wisata.
Saya juga mengalami dualisme kultur. Di Jogja yang kental dengan basa krama, saya juga kudu beradaptasi dengan teman-teman yang ber-gue-lo setiap saat. Maklum, saya diterima di perusahaan yang berbasis di ibu kota, peserta pendidikan lainnya mayoritas berasal dari Jakarta dan Bandung. Jadi walaupun "dibuang" ke Jogja, aroma-aroma ibu kota masih tercium kental di sekeliling saya.
Kalau dipikir-pikir, perpindahan saya ekstrim. Sebelumnya di kota yang cukup blak-blakan dan kasar, Surabaya, dan sekarang penuh sopan santun dan alus-alusan, Yogyakarta. Tidak ada lagi jancuk dan teman-temannya. Hehe. "Ora" untuk "engga", "cacahe piro?" untuk "jumlahnya berapa?", "mangkat" untuk "berangkat", dan beberapa bahasa Jawa lainnya yang tidak biasa saya gunakan tetapi familiar ditemukan di Pepak Basa Jawa jaman pelajaran Bahasa Daerah SD dulu. "Kowe" atau "kamu" yang masuk level halus di Surabaya, di sini sudah dianggap kasar. Hehe, unik! :p
Saya menikmati "dibuangnya" saya ke kota ini. Yaaa, walaupun lagi-lagi baru bisa main ke Malioboro, Pasar Bringharjo, Ambarukmo Plaza alias Amplas *sigh*, dan yang terbaru SUNDAY MORNING (baca: Sunmor), pasar kaget Minggu pagi di UGM yang mirip TP Pagi di Surabaya; saya bertekad mblasak-mblusuk sampai mampus di kota ini! Soalnya, salah satu teman SMA saya, Awan, pernah bilang kalau Jogja punya segudang secret places untuk melarikan diri dari penatnya hidup. *aiiissshh* Maksudnya tempat-tempat bagus seperti pantai dan gunung yang masih jarang orang tahu dan bagusnya masya Allah. Semoga sempat ke sana! :D Agak pesimis karena jadwal pendidikan yang padat, 8 pagi hingga 5 sore, dan penuh dengan materi ekonomi makro mikro perbankan yang sudah pernah membuat saya nangis-nangis di pojokan saat kuliah dulu. Eh, nggak tahunya ketemu lagi. *nangis-nangis di pojokan (lagi)* Yeah, kadang Tuhan memang pemberi kejutan yang paling mengejutkan! We never know what's in His mind, right? "Dinikmati dengan ikhlas ajah..." Mummy said.
![]() |
| Sunmor yang penuh sesak. (taken from Google) |
![]() |
| Berjubel tapi seru. (taken from Google) |
Well, Jogja!
So nice to meet you, and let me know you deeper!
Mari bertualang!
Mari bertualang!
Semoga Jogja menjadi kota rantau berikutnya yang menyenangkan!! (^_^)
Hidup anak rantau!! :D






Komentar
Posting Komentar