Gadis Berambut Panjang
*sempat berasa serem dengan judul post ini*
![]() |
| Photo by luizclas from Pexels |
Papah pernah bilang, anak perempuan memang kodratnya punya rambut panjang. Mungkin itu juga yang membuat Papah selalu muring-muring kalau rambut saya dan kakak dipotong pendek maupun dianeh-anehin. Dan karena itulah, setiap kali rambut kami mau dipotong, kami tidak pernah minta izin. Berangkat ke salon, potong rambut, dan bersiap pulang kena omelan. Hehe. Papah boleh ngomel, tapi rambut kami sudah terlanjur pendek.
Entah mengapa saya juga lebih suka melihat perempuan dengan rambut panjang terurai lurus. They just looked pretty! Saya juga baru kali ini membiarkan rambut saya tumbuh dengan panjangnya dalam jangka waktu yang lumayan lama. Alasan awal karena saya wisuda bulan Juli lalu, tapi lama-kelamaan saya malas ke salon untuk potong rambut. Sebelumnya saya selalu tergoda untuk memotong rambut hingga sebahu karena nggak tahan saking sumuknya.
Karena rambut panjang juga, beberapa waktu lalu ada kejadian menarik buat saya. Saya bersama kakak diundang untuk menjadi perwakilan angkatan di pertemuan tahunan Ikatan Alumni SMA kami. Yaaa, acaranya pemilihan ketua Ikatan Alumni, pembicaraan program kerja, dan makan-makan! :p
Saat kami makan, saya dan kakak berpisah tempat. Saya ngumpul bersama teman seangkatan dan beberapa adik kelas, karena memang jarak saya dan kakak cukup jauh, 7 tahun. Tiba-tiba seorang bapak paruh baya menghampiri saya. Si Bapak mengenakan kemeja, sebuah ban di kerah baju (yang biasa dipakai seorang pastur), dan pin salib di saku dadanya. Saya melirik ke arah kartu pengenal si Bapak yang memang dipakai masing-masing orang yang datang di acara ini. Kartu pengenal itu bertuliskan "Romo Yon", angkatan 70 sekian.
"Angkatan berapa?" Romo Yon berbasa-basi memulai pembicaraan.
"2007, Romo." saya menjawab. Saya melirik kartu pengenal saya yang memang dalam kondisi terbalik, sehingga tidak terbaca oleh Romo Yon.
Untuk yang belum tahu, gelar/panggilan "Romo" diberikan untuk pastur-pastur di gereja Katolik, yang artinya "bapak" dalam bahasa Jawa. Saya tahu karena kebetulan TK-SD saya bersekolah di Sekolah Katolik, Papah sayapun Katolik, walaupun saya muslim. Tapi kayanya hampir semua tahu tanpa harus sekolah di sekolah Katolik deh! *digetok palu*
Romo Yon melihat name tag saya yang sudah saya betulkan posisinya, "Tarita. Hmm, kalo bandara di Jepang itu apa hayo?"
"Narita, Romo." saya menjawab lalu tersenyum. "Romo Yon pegang gereja mana?" saya bertanya.
"Oh, saya di Gereja Santo Yosef," ternyata Romo ini memegang gereja di TK-SD saya. Dan pembicaraan berlanjut setelah saya bilang saya dulu bersekolah di TK dan SD Santo Yosef.
"Tarita, Romo boleh berpesan?" Romo Yon berkata lagi. "Silakan, Romo." Saya mikir dan agak kikuk. Apa jangan-jangan ada sesuatu yang salah hari ini.
"Tolong rambutmu dibiarkan panjang saja, jangan dipotong ya! Ini pesan senior pada junior loh..." Romo Yon tertawa kecil. Saya agak tertegun, mengangguk, tapi juga lega. Masalah rambut panjang ternyata, agak surprised juga.
"Tolong rambutmu dibiarkan panjang saja, jangan dipotong ya! Ini pesan senior pada junior loh..." Romo Yon tertawa kecil. Saya agak tertegun, mengangguk, tapi juga lega. Masalah rambut panjang ternyata, agak surprised juga.
"Soalnya sekarang sudah mulai jarang perempuan yang masih mempertahankan rambut panjang." Romo Yon menambahkan.
"Siap, Romo." saya menjawab. Kemudian kata-kata Romo Yon yang ini membuat saya tersenyum.
"Siap, Romo." saya menjawab. Kemudian kata-kata Romo Yon yang ini membuat saya tersenyum.
"Kalau menurut kitab yang saya anut (alkitab), di situ dicantumkan: Suatu kehormatan bagi perempuan jika ia berambut panjang, tetapi menjadi suatu penghinaan bagi laki-laki jika ia berambut panjang."
Sampai sekarang saya masih ingat kata-kata itu. Kata-kata yang bikin saya amazed pada Romo Yon yang tidak satu keyakinan dengan saya, tetapi tetap mengkomunikasikan (dengan santai) apa yang diyakini agamanya pada orang lain yang berbeda agama, tanpa ada tendensi perbedaan agama. :) Mungkin karena itu juga Papah suka saya punya rambut panjang. Agama saya sendiri juga lebih menganjurkan perempuan berambut panjang, karena haram hukumnya perempuan memotong rambut sehingga menyerupai laki-laki.
Ya sudah, mari tetap membiarkan rambut ini panjang. Toh, juga tidak ada salahnya punya rambut panjang, meskipun sedikit lebih ribet dan sumuk, hehe. Asal panjangnya rambut nggak sepanjang Sadako. :|
(Sadako from "The Ring", picture taken from bloodygoodhorror.com)
Masalah rambut yang simple ternyata punya filosofi yang cukup dalam di dua agama yang berbeda. Terima kasih, Romo Yon!




tithaa pict di bawahnya ngga banget zzz
BalasHapusMwahahaha, gue suka Sadako soalnya Pin!
BalasHapusKalo lo mau, di laptop ada The Ring 0 sampe The Ring 2...
MANTABS!!
Dear Rita,
BalasHapusSalam kenal, aku budi, aku senang baca blog kamu, aku suka lihat kamu n rambut kamu... Sekarang rambut kamu udah panjang segimana ??? Ada niat mau dipotong pendek gak ??? Kalo ada, tolong hubungi aku di 087723620555 yach, nanti aku potongin dwech, gratis, gak pakai biaya apapun... OK ????